Tersentuh Senja

Kemarin tak terulang
esok kan datang
langit biru terang benderang
berdamai dengan bumi tanpa perang

langit kan selalu diatas
tak lupa siapa yang di bawah
bumi berharap tanpa batas
senang saat hujan datang dengan basah

Adzan yang dirindukan

Sunrise muncul ke peraduan
berpenampil bagai primadona
menyusuri pagi hari
dan adzan subuh menemani

dari hati keluar ucap
niat tekad telah tertancap
jeritan perut yang berucap
bibir gosip tertundak dalam diam

Angkuh Kau Rengkuh

Rintik hujan warnai hari
temani langkah kaki untuk berdiri
kaki yang terjebak air di tanah bumi

Kulihat kau berjalan tanpa suara
berdiam dengan tatapan datar
dan tanpa bicara

HUJAN TAK BERPIHAK


          kemana angin berhembus, kemana air menguap. Hujan, diataskah kamu bersembunyi? Atau kau berkumpul menunggu yang lain datang kemudian kamu turun membasahi dunia ? Akku berharap fisik mu tak menghancurkan dunia kami, ingin kami hanya kesuburan oleh fisikmu yang cair. Hujan, dari laut mengembun ke atas menjadi awan, turun sebagai hujan, dan mengalir air melalui sungai menuju laut. Engkau bagaikan kehidupan bagi umat yang berlalu lalang memerlikan fisikmu yang tak beraturan. Sejenak hujan menghilang digantikan kemarau, kemanakah hujan meninggalkan bumi. Apakah di telan bumi, turunlah, jangan sembunyi sibalik sang kemarau. Karena kami perlu kamu hujan untuk menghidupi tanaman,heman dan manusia. Jangan sampai juga fisikmu menghancurkan bumi kami, hujan tenangkanlah dirimu.